Selasa, 19 Juli 2011

Labia Dange Tamadue

Oleh Jafar G Bua

ANDA tahu labia? Bisa jadi, iya. Bisa jadi pula, tidak. Nah, itu adalah sebutan masyarakat Parigi, Sulawesi Tengah untuk sagu. Mereka memakai dialek sub etnik Tara, salah satu rumpun Suku Kaili. Jika diimbuhi dengan dange. Itu artinya sagu panggang.
Rasanya? Tidak perlu ditanya. Langsung saja dicicipi. Lalu kita tinggal pilih saja variasinya. Mau labia dange isi ikan teri, labia dange rono atau labia dange isi durian, labia dange tamadue, terserah Anda. Ada pula labia dange isi gula aren, labia dange gola vaga. Untuk mudahnya, masyarakat setempat mengenalnya sebagai palapa. Tetap disebut labia dange jika tidak dicampurkan bahan-bahan lain.
Bagaimana cara membuatnya, ya? Mimi Zaerinah, ibu rumah tangga yang membuat labia dange atau palapa ini, mengaku gampang-gampang susah.
Yang pertama, siapkan sagu secukupnya, ikan teri, durian atau gula jawa, tergantung pilihan dan selera kita. Jangan lupa, parutan kelapa yang akan dicampur dengan sagu. Nantinya setelah dipilih salah satu bahan isi, kita kemudian bisa mencampur sagu dengan parutan kelapa. Lalu kita memanggangnya di atas tembikar berbentuk setengah bulatan. Agar matangnya merata, tembikarnya dipanaskan dulu di atas kompor atau tungku.
Nah, tunggu kira-kira 5 menit, lapisan pertama yang dibuat tipis saja sudah matang. Lalu kita pilih saja, mau pakai isi rono, tamadue atau gola vaga. Sebar merata di atas lapis pertama yang sudah matang tadi, lalu dilapisi lagi dengan sagu. Tunggu lagi sekira 5 menit, dan labia dange sudah siap dinikmati.
“Yang biasa kita cuma mengenal labia dange biasa, tapi ini kita kasih jadi palapa, dicampur dengan bahan-bahan lain sesuai selera,” kata Mimi.
Ndali Sahibu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata mengatakan bahwa labia dange buatan Mimi punya ciri khas.
“Selama ini saya makan labia dange biasa. Tapi yang ini dicampur dengan rono, gula merah dan durian. Rasanya enak betul,” aku Ndali.
Kalau Anda penasaran, coba saja resep itu di rumah atau berkunjunglah ke Parigi. Lalu meminta Ibu Mimi membuatkannya.

Beko, Kuliner Khas Lembah Megalit

oleh Jafar G Bua
WILAYAH nusantara menyimpan banyak kekayaan kuliner yang khas dan unik. Kali ini, kita akan menyicipi Beko, kuliner khas di Lembah Besoa. Kuliner khas terbuat dari pisang sepatu muda yang dimasak dengan daging sapi.
Bahan-bahan untuk membuat Beko sangat sederhana. Ada pisang sepatu muda ditambah bumbu daun sereh, kemangi, daun jeruk, garam dan cabe rawit hijau yang ditumbuk halus lalu daging sapi.
Mula-mula daging sapi diiris dadu, seperti membuat sate. Sementara itu air dengan ukuran secukupnya sudah didihkan di atas wajan. Setelah mendidih barulah dimasukkan daging sapi tadi. Lalu pisang sepatu yang masih muda tadi diiris kecil-kecil.

Setelah air mendidih daging sapi dimasukkan, lalu setelah daging dirasa sudah setengah matang seluruh bumbunya dimasukkan mulai dari cabe rawit, batang sereh yang sudah dimemarkan, daun jeruk, lalu kemangi.
Tunggu beberapa menit kemudian, beko sudah masak. Siap untuk dihidangkang. Aroma daun jeruk, sereh dan kemangi bercampur menjadikan beko wangi.
Subarkah, salah seorang warga dari Palu, Sulawesi Tengah yang datang menelusuri jalur trekking di lembah Besoa mengaku masakan ini enak.
“Memang enak. Asli. Benar-benar pedas rasanya. Dan makin enak karena ada pisangnya,” aku Subarkah.
Elisabeth Poba’a (40), warga Besoa, yang biasa memasak beko pada saat pesta perkawinan mengaku makanan ini tidak ada di daerah lain. Makanan ini memang khas daerah setempat.
“Ini memang saya rasa tidak ada di daerah lain. Ini bisa langsung di makan dengan pisang, bisa juga dengan nasi. Tergantung selera,” kata Elisabeth.
Jika suatu saat anda ke Lembah Besoa, sempatkanlah menyicipi makanan ini. Asal tahu saja, makanan ini hanya ada saat pesta perkawina atau hajatan besar lainnya. Tapi jika penasaran menyicipinya, mintalah tolong pada warga setempat untuk membuatkannya

Tari Perang Penyambut Tamu

Oleh Jafar G Bua

MASYARAKAT Suku Lauje, di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mempunyai tradisi unik dalam menerima tamu atau pembesar yang baru berkunjung ke daerahnya. Mereka akan menyambutnya dengan tarian perang yang dimainkan oleh empat lelaki yang menggunakan guma atau parang panjang, serta dua orang yang bertombak. Penyambutan itu juga diiringi musik yang terdiri dari susulan balok kayu, gendang dan gong besar.Sabtu (19/04/2008) lalu, empat orang lelaki menggunakan guma dan dua lelaki lainnya menggunakan tombak terlihat berhadapan dengan sejumlah tamu. Di antara tamu itu terlihat Bupati Parigi Moutong LOngki Djanggola dan Camat Palasa Darwis Rahmatu. Mereka lalu berteriak dan berlaga dengan sesama mereka di depan para tamu penting itu. Jangan salah kira, mereka bukan hendak saling membunuh. Mereka ternyata sedang menyambut tamu-tamunya itu.
Tradisi tarian perang ini, biasanya disebut Meaju. Lazim ditarikan kala menerima tamu atau pembesar, semisal Presiden, Menteri, Gubernur atau Bupati, serta tamu-tamu lainnya.
Para tamu-tamu yang datang akan diarak menuju Pogombo Ada atau balai pertemuan adat. Sebelumnya, para tamu itu dihamburkan beras kuning, sebagai bentuk penghormatan. Lalu para tamu harus menginjak dulang dari kuningan yang berisi tanaman tertentu. Maknanya, di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung, di mana kita bermukim, sudah seharusnya adatyan pun kita hormati.
Sementara arakan itu berlangsung, tiga orang anggota komunitas Suku Lauje memainkan alat musik yang terdiri dari Tadako, kulintang, Gimbale atau gendang dan Gong besar.
Jika Anda tertarik, sekali-kali, berkunjunglah ke Palasa, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Jaraknya sekitar 200 kilometer dari Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah

Menyesap Udara Sejuknya, Menyicipi Lezatnya Beko

Oleh Jafar G Bua

Taman Nasional Lore Lindu memang menawan. Tak Cuma menawarkan keindahan alamnya, tapi juga membawa kita mengembara ke zaman batu dan juga nikmatnya kuliner tradisional. Ini pilihan tujuan berakhir pekan yang menarik.

KABUT masih menggantung di atas Danau Tambing. Jalan setapak yang membelah salah satu kawasan Taman Nasional ini masih basah. Sebab embun belum lagi pergi dari dedaunan. Tapi sepagi itu sekawanan burung Walet Pasifik (Collocalia esculenta) sudah bermain di atas danau yang berada di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut ini. Mereka menukik lalu mematuk serangga yang bermain di atas air danau. Indah. Mengesankan. Apalagi kicau burung Sikatan Dahi Biru (Cyornis hoevelli) meningkahi irama alam bak orkestra paripurna.

Ya, perjalanan kali ini memang kita mulai dari Danau Tambing. Jaraknya sekitar 55 kilometer dari Kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Dapat ditempuh dengan kendaraan umum dan juga kendaraan pribadi. Lalu, dari tepi jalan poros Palu-Napu hanya sekitar 300 meter ditempuh melalui jalan setapak. Penduduk setempat menamainya Kalimpa'a.

Danau ini juga menjadi ladang pencaharian warga setempat. Mereka, para nelayan rimba mengail dan menjala ikan mujair dan juga belut di danau ini. Yang menarik kawasan ini salah satu titik bird watching atau pengamatan burung yang disukai oleh para peneliti dan tentu wisatawan. Ada sekitar 263 jenis
burung bisa ditemukan. Sebanyak 30 persen di antaranya merupakan endemik, artinya tidak ditemukan di daerah lainnya. Di sini, kita bisa menemukan antara lain Nuri Sulawesi (Tanygnatus sumatrana), Kakatua (Cacatua sulphurea), Rangkong (Buceros rhinoceros dan Aceros cassidix) atau Pecuk ular (Anhinga rufa).

Menarik bukan. Anda mesti sesekali meluangkan waktu ke sini berakhir pekan. Meminjam kata-kata Idris Tinulele (37), pemandu wisata alam, menonton burung melatih kesabaran dan ketekunan kita.

"Sebab kita harus tenang dan tahan berlama-lama menunggu burung-burung itu keluar dari sarang dan bermain di pohon atau di atas danau," kata pemuda yang menamatkan pendidikannya sarjana Strata-1 dengan meneliti burung Maleo (Macrochepalon maleo) ini.

Kawasan Danau Tambing adalah bagian dari salah satu kawasan Taman Nasional di Indonesia. Taman Nasional ini luasnya sekitar 229.000 hektare. Terletak di wilayah Kabupaten Donggala, Sigi dan Poso. Taman Nasional Lore Lindu ditetapkannya sebagai Cagar Biosfir oleh UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization-Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang
mengurusi pendidikan, ilmu pengetahun dan budaya) pada tahun 1977.

Nah, setelah menyesap sejuknya udara di Danau Tambing, bolehlah kita mengembara ke zaman batu. Di zaman megalitikum di Lembah Besoa. Kita beranjak sekitar 1,5 jam ke arah selatan. Kita hendak menuju Lembah Besoa, Kecamatan Lore Utara. Di sana kita akan menjumpai Tadulako, pahlawan perang dari masa silam. Setelah lelah, kita akan menyicipi lezatnya Beko. Yuk!